Monday, July 18, 2011

Hukum Menjadi Vegetarian

Posted by lianazulak On 8:50 AM 4 comments


هل يجوز للمسلم أن يكون عاشبا (نباتيا لا يأكل اللحم)؟ مع العلم أنه في العيد الكل يتناول من اللحم؟
Pertanyaan, “Apakah seorang muslim boleh menjadi vegetarian yang tentu saja tidak pernah makan daging? Padahal setiap hari raya, semua orang makan daging?
لا يجوز للرجل أن يمتنع من أكل اللحم، إذا كان يعتقد أن هذا من العبادة، أو أراد الزهد بترك أكله، لأن النبي قال: (أما أنا فإني أقوم من الليل وأنام، وأصوم من الدهر وأفطر، وآكل اللحم، فمن رغب عن سنتي فليس مني).
Jawapan, “Tidak boleh (baca: haram) bagi seorang muslim untuk melarang dirinya sendiri untuk memakan daging jika orang tersebut berkeyakinan bahawa hal ini adalah bahagian dari ibadah atau dia ingin hidup zuhud dengan tidak makan daging. Alasannya adalah sabda Nabi, “Sedangkan aku, ada sebagian waktu malam yang kugunakan untuk shalat dan sebagian yang lain untuk tidur, ada hari untuk berpuasa dan ada hari tidak berpuasa dan aku makan daging. Siapa saja yang membenci sunnahku maka dia bukanlah sebahagian dari umatku” [HR Bukhari].


فترك أكل اللحم بنية التقرب لله زهدا أو تعبدا مخالف لسنة رسول الله، وأما من تركه بسبب مرض في جسده، ولأنه يسبب له ضررا، فهذا لا إثم عليه،
Jadi tidak mahu makan daging dengan niat mendekatkan diri kepada Allah kerana ingin hidup zuhud atau beribadah kepada Allah adalah perbuatan yang menyalahi daripada sunnah Rasulullah [baca: bid’ah].
Namun orang yang tidak mahu makan daging kerana penyakit di badannya atau kerana makan daging itu menyebabkan alergi maka ini hukumnya tidak mengapa.
وقضية أن يكون المسلم نباتيا لا يأكل اللحم هو تقليد لطريقة ضارة عند غير المسلمين، ولا يصح للمسلم أن يكون إمَّعة يقلد دون معرفة ولا علم، والله أعلم.
Keinginan muslim untuk menjadi vegetarian yang tidak mahu makan daging adalah bentuk ikut-ikutan perbuatan non muslim yang berbahaya. Seorang muslim tidak boleh menjadi orang yang asal ikut-ikutan tanpa mengetahui manfaat dan tujuan dari hal yang diikuti.
Sebab Lain Terlarangnya Menjadi Seorang Vegetarian

Walau telah jelas dalil-dalil tentang tidak haramnya binatang ternak, ada baiknya kita juga mengetahui alasan lain mengapa menjadi seorang vegetarian juga termasuk hal besar yang terlarang dalam agama.

1. Dapat dihukumi keluar dari Islam (kafir)
Hal ini disebabkan seorang vegetarian telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, seorang vegetarian telah membuat hukum baru yang bertentangan dengan syari’at. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ


Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa hafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. Al-An’am 6:150)
Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa ada dua kemungkinan ketika seseorang diminta untuk mendatangkan dalil/alasan ketika mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Kemungkinan pertama adalah mereka tidak dapat mendatangkan dalil. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang mereka serukan.

Kemungkinan kedua bahwa mereka mendatangkan alasan yang merupakan kedustaan. Tentu saja persaksian mereka ini tidak diterima. Dan ini bukanlah termasuk perkara dimana sah seorang yang adil untuk bersaksi dengannya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikuti persaksian mereka. (Taisirul Karimirrohman)

2. Membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama
Hal ini terutama jika pengkhususan memakan makanan hanya dari yang berupa sayuran tersebut disandarkan kepada agama. Atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sebuah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Menyerupai Orang Kafir
Tahukah ukhti muslimah, bahwa banyak sekali hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk menyelisihi orang kafir? Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang mengatakan,
“Apa yang diinginkan laki-laki ini? Tidak ada satupun urusan kita kecuali ia pasti menyelisihi kita di dalamnya.” (HR. Muslim)

Ukhti muslimah juga tentu telah mengetahui, bahwa para penganut Budha adalah orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mahu makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Maka yang benar, seharusnya sebagai muslimah kita tidak ikut-ikutan menjadi seorang vegetarian, bahkan berusaha tidak mengikut para penganut Budha (orang-orang kafir) tersebut.


4. Mengingkari nikmat Allah


Daging, susu, telur atau hasil makanan lain yang didapatkan merupakan kenikmatan yang Allah berikan pada hamba-Nya.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ


“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

5. Mengingkari hukum yang Allah tetapkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan cara untuk dapat memakan daging dari binatang ternak dengan cara menyembelihnya. Dan tidaklah apa yang Allah perintahkan melainkan sebuah kebaikan. Maka adalah suatu kesalahan ketika seorang vegetarian tidak memakan daging karena rasa kasihan melihat binatang ternak ketika disembelih menggelepar-gelepar, mengejang dan meregangkan otot, bahkan menyatakan itu tidak berperikemanusiaan (atau tidak berperikebinatangan?). Sekali lagi perlu kita ingatkan, bahwa tidaklah apa yang Allah perintahkan dan tentukan merupakan kebaikan walaupun mungkin kita belum mengetahui hikmahnya.

Alhamdulillah, tentang menyembelih haiwan terdapat terdapat hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Schultz & Dr. Hazim yang keduanya adalah Animal Scientists dari Hanover University – Jerman, yang menunjukkan bahwa haiwan yang disembelih tidak merasakan rasa sakit. Hal ini dikeranakan pisau tajam yang mengiris leher ‘tidaklah menyentuh’ saraf rasa sakit. Sehingga reaksi menggelepur, meregang otot dan lainnya hanyalah tanda-tanda ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (saat darah mengalir keluar dengan deras). Dan bukan tanda rasa sakit! (Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P).

Berbeza dengan apa yang orang-orang kafir lakukan dimana mereka mematikan haiwan dengan cara dipukul terlebih dahulu dengan alat pemingsan (Captive Bolt Pistols) baru kemudian disembelih. Alasan mereka adalah agar haiwan tersebut tidak kesakitan ketika disembelih dan daging tetap bagus karena haiwan jatuh dengan perlahan. Apalah ertinya logik manusia dibandingkan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, haiwan yang dimatikan dengan cara tersebut segera merasakan rasa sakit setelah dipengsankan bahkan hasil dagingnya tidak sihat untuk dimakan.
Demikianlah syari’at menjelaskan tentang makanan yang berasal dari binatang ternak. Janganlah tertipu dengan akal kita yang menilai sesuatu hanya berdasarkan penglihatan lahir dan perasaan semata. Sudah kehilangan kenikmatan dunia berupa makanan lezat, merugi pula di akhirat kerana berbuat dosa. Na’udzu billah min dzali..


4 comments:

Saya benci orang bunuh haiwan jadi saya jadi vegetarian. Adakah haram membawa kepada murtad? Jika ya, saya rela murtad.

Hahaha...daging merah dah dibukti menyebabkan kanser. Lebih makan la.