Sunday, January 9, 2011

Golongan manakah kita..? Fikirkanlah...

Posted by lianazulak On 9:07 AM

Assalamualaikum... hari ini kita banyak pentingkan kerjaya dan cita-cita tapi kita lupa satu hal yang penting dan tujuan sebenar kita sebagai hamba Allah..

Berbagai kesibukan dan pekerjaan yang dilakukan manusia demi mendapatkan makanan dan pakaian telah membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri, tujuan utama kehidupan mereka dan tempat kembali mereka (akhirat), hingga akhirnya mereka mendapatkan penyesalan. Akal mereka pun lemah untuk sampai kepada ma`rifatullah. Semua itu disebabkan oleh kesibukannya memburu dunia. Oleh kerana itu golongan seperti ini dibagi menjadi beberapa kelompok :

1. Golongan yang didominasi oleh kebodohan dan kelalaian, sehingga mata mereka tidak terbuka untuk merenungkan akibat dari perbuatan mereka. Terbukti dengan perkataan mereka sendiri, “Tujuan utama kita dalam kehidupan yang hanya sebentar ini adalah berusaha keras untuk mendapatkan makanan. Setelah didapati kita makan hingga mendapat kekuatan untuk bekerja. Setelah mampu bekerja berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan makanan.” Perkataan ini menunjukkan bahawa tujuan hidup mereka adalah makan agar mampu bekerja kemudian mereka bekerja agar dapat makan. Ini adalah aliran orang yang tidak punya kenikmatan dan tidak punya pijakan agama. Mereka letih disiang hari untuk makan dimalam hari dan makan dimalam hari untuk bersusah payah disiang hari. Orang seperti ini bagaikan unta yang berjalan dipadang pasir yang mencari air dan rumput-rumputan agar dapat meneruskan perjalanannya hingga akhirnya mati ditengah padang pasir dalam keadaan lapar.

2. Golongan yang mengira bahwa tujuan utama manusia bukanlah bersusah payah untuk bekerja. Kebahagiaan itu terletak pada pelampiasan syahwat dunia iaitu syahwat perut dan kemaluan. Mereka menghabiskan waktu untuk mengejar wanita dan mengumpulkan berbagai makanan yang lazat. Mereka makan seperti binatang makan, mereka berhubungan badan seperti binatang berhubungan badan, dan mereka mengira apabila telah mendapatkan hal tersebut (makan dan berhubungan badan) bererti telah mencapai puncak kebahagiaan, hingga akhirnya mereka melupakan Allah dan hari akhirat.

3. Golongan yang mengira bahawa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta dan simpanan kekayaan, sehingga mereka bersusah payah mengumpulkannya siang dan malam. Mereka melakukan perjalanan sepanjang siang dan malam hingga kelelahan, mundar-mandir melakukan berbagai pekerjaan berat hingga kesampaian, berusaha dan mengumpulkan kekayaan hingga mereka sendiri tidak memakannya kecuali sekadarnya saja. Hal itu kerana mereka kikir dan takut hartanya berkurang. Mereka hanya menikmati dan mengumpulkan harta dan melihat hartanya yang berlimpah, walaupun mereka tidak sempat menikmatinya. Ketika mereka meninggal dunia, hartanya tetap tertimbun dibawah tanah atau ditemukan oleh orang lain (atau jadi rebutan ahli waris) yang memakannya dengan penuh syahwat dan kelazatan dan ia hanya mendapatkan keletihan. Lalu orang-orang yang sepertinya hanya menyaksikan dan memberikan belas kasihan tanpa dapat mengambil pelajaran dari kematian kawannya.

4. Golongan yang mengira bahawa kebahagiaan terletak pada nama baik, pujian dan penghormatan. Mereka rela mengurangi makanan dan minuman hanya untuk dapat membeli pakaian yang bagus dan kendaraan yang mewah. Mereka menghiasi pintu-pintu rumah dan sudut-sudut ruangan yang menjadi perhatian pandangan manusia agar dikatakan sebagai orang kaya. Memiliki harta banyak. Mereka mengira bahawa hal itu merupakan kebahagiaan. Perhatian utama mereka siang-malam adalah mendapatkan perhatian manusia.

5. Golongan yang mengira bahawa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan kehormatan dikalangan manusia atau ketundukan manusia dan penghargaan mereka terhadap dirinya. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan simpati dari manusia. Mereka mengira dengan menjadi pemimpin akan membawa dirinya dihormati dan dipatuhi. Saat itulah puncak kebahagiaan yang dirasakan. Ini merupakan tipu daya syahwat yang sangat besar atas orang-orang yang lalai kepada Allah. Mereka menyibukkan diri agar orang lain tunduk kepadanya dan bukan berusaha agar ia tunduk kepada Allah dan taat beribadah kepada-Nya.

Apabila seseorang tidak rakus akan kehidupan dunia atau mengambil bagian dunia sekadar keperluannya (taqliil), maka ia akan terhindar dari tipu daya dunia dan akan banyak mengikat kehidupan akhirat (zikrul akhirat) dan perhatiaannya tercurah kepada persiapan menghadapi kehidupan akhirat. Akan tetapi apabila ia rakus terhadap kehidupan dunia, apa yang diperoleh melampaui batas keperluannya. Ia akan banyak mendapat kesibukan duniawi, dan satu urusan akan melahirkan urusan yang lain hingga akhirnya ia tidak ada waktu dan kemampuan untuk mengingat Allah.

Sumber dari: Tazkiyatun Nafs – Kajian Lengkap Penyucian Jiwa
Oleh : Sa`id Hawwa



Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda :

1. “Dunia ini adalah tempat bagi orang yang tidak memiliki tempat (di akhirat).

2. Dunia adalah harta bagi orang yang tidak memiliki harta (di akhirat).

3. Dunia ini hanya akan ditompok-tompok oleh orang yang tidak sempurna akalnya.

4. Hanya orang yang tidak paham sajalah yang akan sibuk dengan kesenangan dunia.

5. Hanya orang yang tidak berilmu sajalah yang akan merasa bersedih kerana dunia.

6. Hanya orang yang tidak memiliki nurani sajalah yang akan dengki dalam masalah dunia.

7. Hanya orang yang tidak punya keyakinan kepada Allah sajalah yang menjadikan dunia sebagai tujuannya.”

Friday, January 7, 2011

HATI MATI

Posted by lianazulak On 11:01 AM


Syeikh Ibrahim Adham menyatakan 10 tanda hati mati iaitu :

1. Mengaku kenal Allah S.W.T tetapi tetapi tidak menunaikan hak- haknya.

2. Mengaku cinta pada Rasulullah S.A.W tetapi tidak menunaikan Sunnah baginda.
 
3. Membaca Al-Quran tetapi tidak beramal dengan hukum- hukum di dalamnya.

4. Memakan nikmat- nikmat Allah S.W.T tetapi tidak mensyukuri atas pemberiannya.

5. Mengaku syaitan itu musuh tetapi tidak berjuang menentangnya

6. Mengaku adanya nikmat syurga tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.

7. Mengaku adanya seksa neraka tetapi tidak berusaha untuk menjahinya.

8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa tetapi masih tidak bersedia untuknya.

9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain tetepi lupa akan keaiban diri sendiri.

10. Menghantarkan dan menguburkan jenazah / mayat saudara seIslam tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

Mimpi Rasulullah S.A.W

Posted by lianazulak On 10:28 AM


Mimpi adalah sesuatu yang sering dialami oleh setiap manusia terutamanya di waktu sedang tidur. Adakala mimpi itu buruk dan ada pula yang baik. Apabila bermimpi sesuatu yang baik seperti sedang membaca Al-Quran,solat, disanjung orang dan seumpamanya, ucapkanlah syukur dan memuji Tuhan. Sebaliknya jika ia mengerikan dan menakutkan sehingga membuat kita keluh kesah, segeralah mengucap istighfar dan keampunan kepada Allah SWT.
Kadang-kadang mimpi itu akan menjadi kenyataan dan kadang-kadang ianya mainan tidur. Ulama-ulama dan wali Allah sering dapat melihat alam ghaib seperti suasana di dalam kubur (seksa dan nikmat) melalui mimpi.
Petikan dari sebuah hadis yang telah disebut oleh Imam As Sayuthi, Al Tabrani, Al Hakim At Termizi dan Al Isfahani dalam kitab mereka yang bermaksud:
1) Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi yang ajaib malam kelmarin. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi oleh Malaikat Maut untuk mengambil nyawa, maka malaikat itu telah terhalang oleh ketaatannya kepada kedua ibu bapanya.
2) Aku melihat juga seorang dari umatku telah disediakan untuk menerima seksa kubur, maka dia telah diselamatkan oleh kesan wuduknya.
3) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan, maka ia telah dibebaskan dari bahayanya oleh berkat zikrullah.
4) Aku melihat juga seorang dari umatku diseret oleh Malaikat Azab maka segera muncul solatnya serta melepaskannya dari azab tersebut.
5) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang ditimpa dahaga yang teramat sangat, setiap ia mendatangi sesuatu perigi, dihalang untuk meminumnya, maka segera datang puasanya serta memberinya minum hingga ia merasa puas.
6) Aku melihat juga seorang dari umatku yang mengunjungi kumpulan para nabi, yang ketika itu sedang duduk berkumpul-kumpul, setiap kali dia mendekati mereka, dia diusir dari situ, maka menjelmalah mandi junubnya sambil memimpinnya ke kumpulan itu seraya menunjukkan supaya duduk di sisiku.
7) Aku melihat juga seorang dari umatku dikabusi oleh suasana gelap, di hadapannya gelap, di kanannya gelap, di kirinya gelap, di atasnya gelap, di bawahnya juga gelap, sedang ia dalam keadaan bingung. Maka datanglah pahala haji dan umrahnya, lalu mengeluarkan dari suasana gelap-gelita itu lalu memasukkannya ke dalam suasana terang-benderang.
8) Aku melihat juga seorang dari umatku berbicara kepada Mukminin, akan tetapi tidak seorang pun dari mereka yang mahu berbicara dengannya, maka menjelmalah silaturrahimnya seraya menyeru orang-orang itu, katanya: Wahai kaum Mukminin sambutlah bicaranya, lalu mereka pun berbicaralah dengannya.
 9) Aku melihat seorang dari umatku sedang menepis-nepis bahang api dan percikannya dari mukanya, maka segera datanglah pahala sedekahnya lalu melindungi muka dan kepalanya dari bahaya api itu.
10) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang diseret oleh Malaikat Zabaniah ke merata tempat, maka menjelmalah Amar Makruf dan Nahi Munkar seraya menyelamatnya dari cengkaman neraka serta menyerahkannya pula kepada Malaikat Rahmat.
11) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang merangkak-rangkak, antaranya dengan Tuhan dipasang tabir, maka menjelmalah budi pekerti seraya memimpinnya sehingga dibuka pemisah tadi dan masuklah ia ke hadrat Allah Taala.
12) Aku melihat juga seorang dari umatku terheret ke sebelah kiri oleh buku catatannya, maka menjelmalah perasaan kepada Allah menukarkan tujuan buku catatan itu ke arah kanan.
13) Aku melihat juga seorang dari umatku terangkat timbangannya, maka menjelmalah anak-anaknya yang mati kecil lalu menekan timbangan itu sehingga menjadi berat.
14) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang berdiri di pinggir Jahanam, maka menjelmalah perasaan gerunnya terhadap seksa Allah Taala lalu membawa jauh dari tempat itu.
15) Aku melihat juga seorang dari umatku terjerumus ke dalam api neraka, maka datanglah air matanya yang mengalir kerana takut kepada Allah Taala lalu menyelamatkanya dari api neraka itu.
16) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang meniti sirat manakala seluruh tubuhnya bergoncang seperti bergoncangnya dedaun yang ditiup angin, maka menjelmalah baik sangkanya terhadap Allah Taala lalu mententeramkan kegoncangan itu lalu dengan mudah meniti hingga ke hujung titian itu.
17) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang meniti atas titian sirat, kadangkala ia merangkak dan kadangkala ia meniarap, maka menjelmalah solat menyeru kepadaku lalu aku memimpin tangannya dan mengajaknya berdiri dan meniti hingga ke penghujung titian itu.
18) Aku melihat juga seorang dari umatku sedang hampir tiba di pintu syurga, tiba-tiba pintu-pintunya ditutup, maka menjelmalah penyaksiannya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah lalu membukakan pintu-pintu syurga itu untuknya sehingga ia boleh memasukinya.
19) Aku melihat ada ramai orang yang digunting-gunting lidahnya, maka aku bertanya kepada Jibril siapakah mereka itu, maka Jibril menjawab: Mereka itulah orang-orang yang suka 'membawa mulut' ke sana ke mari.
20) Aku melihat juga orang-orang yang digantung dengan lidah-lidah mereka, maka aku bertanya Jibril siapakah mereka itu, maka Jibril menjawab: Mereka itulah orang-orang yang melempar tuduhan terhadap kaum Mukminin dan Mukminat dengan tuduhan tanpa bukti dan palsu.

Wallahu Ta'ala A'lam.. andai terdapat salah silap mohon diperbetulkan....

Gagak, Bapa dan Anak

Posted by lianazulak On 10:13 AM


Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbual-bual di halaman sambil memerhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jaring ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah bendanya itu?" "Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi soalan yang sama. Si anak menyangkakan ayahnya kurang mendengar jawapannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak ayah!" Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soalan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit runsing dengan soalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan soalan yang serupa hingga membuatkan si anak hilang sabar dan menjawab dengan nada yang hendak tak hendak melayan si ayah, "Gagak la ayah.......". Tetapi agak mengejutkan si anak, apabila si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan soalan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. "Ayah!!! saya tak tahu samada ayah faham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soalan tersebut dan saya sudah pun memberikan jawapannya. Apalagi yang ayah mahu saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak la.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terpinga-pinga. Sebentar kemudian si ayah keluar semula dengan sesuatu di tangannya. Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. Ianya sebuah diari lama. "Cuba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah. Si anak akur dan membaca perenggan yang berikut.......... "Hari ini aku di halaman melayan karenah anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apa tu?". Dan aku menjawab, "Burung gagak". Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soalan yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangkannya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap ianya menjadi suatu pendidikan yang berharga." Setelah selesai membaca perenggan tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, " Hari ini ayah baru bertanya kau soalan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah."

MORAL OF THE STORY: "JAGALAH HATI KEDUA IBUBAPA. JANGAN SESEKALI MENGHAMPAKAN HARAPAN MEREKA"

Wednesday, January 5, 2011

Tiada Sial Pada Bulan Safar

Posted by lianazulak On 4:06 AM

Pesta Mandi Safar yang masih diamalkan di dalam masyarakat Melayu

Masyarakat Arab pada zaman jahiliyah iaitu sebelum kedatangan agama Islam sememangnya terkenal dengan amalan-amalan yang bercanggah dengan syarak. Perjalanan kehidupan seharian mereka sentiasa dibayangi oleh amalan-amalan syirik, tahyul dan khurafat. Sebagai contoh sekiranya mereka ingin memulakan perjalanan mereka akan melihat gerakan-gerakan sesetengah jenis binatang seperti burung mahupun busur panah yang dilepaskan sama ada ke kiri atau ke kanan. Mereka beranggapan arah gerakan tersebut boleh mempengaruhi keburukan atau kebaikan yang mungkin akan dihadapi dalam perjalanan tersebut. Sekiranya pada tanggapan mereka gerakan tersebut menunjukkan alamat yang tidak baik maka mereka membatalkan hasrat untuk meneruskan perjalanan tersebut. Perkara sebegini disebutkan tathayyur atau meramalkan sesuatu kejadian yang buruk disebabkan oleh sesuatu perkara. Sebagai contohnya Imam al-Syafi’i r.h pernah berkata:

Dahulu golongan jahiliyah apabila ingin bermusafir akan mengambil burung dan melepaskannya ke udara. Sekiranya ia terbang ke kanan maka mereka pun keluar atas tanggapan tuah tersebut. Jika ia terbang ke kiri atau ke belakang, maka mereka akan menganggap sial lalu berpatah balik. Maka apabila Nabi s.a.w. diutuskan, baginda menyeru orang ramai: “Kekalkan burung pada sarangnya.” – Riwayat Abu Nu’aim al-Asfahani di dalam Hilyah al-Auliya’

Islam menyelar budaya tathayyur ini dan menganggap ianya merupakan satu perbuatan yang mencemar kemurniaan tauhid kerana ketergantungan hati seseorang kepada sesuatu perkara selain daripada Allah S.W.T. dengan menyakini perkara tersebut boleh membawa mudharat atau manfaat kepada kita. Islam meletakkan kejadian sesuatu perkara itu bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah S.W.T semata-mata. Firman-Nya:



Katakanlah (wahai Muhammad): "Tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia lah Pelindung yang menyelamatkan kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal".al-Taubah (9) : 51

Menyandarkan sesuatu musibah bakal menimpa terhadap kerana sesuatu perkara seperti gerakan binatang, kedudukan bintang, waktu atau masa yang tertentu dan lain-lain adalah perbuatan yang tercela kerana segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah S.W.T. tanpa ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan-Nya. Firman Allah S.W.T.:

Ketahuilah, sesungguhnya nahas dan malang mereka itu hanya di tetapkan di sisi Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. – al-A’raaf (7) : 131

Oleh itu bagi sesiapa yang membuat sesuatu keputusan berdasarkan tathayyur maka dia telah terjebak dalam lembah kesyirikkan.

Daripada ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:




مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ



Barangsiapa yang menangguhkan hajatnya kerana al-Thayrah (ramalan buruk kerana sesuatu) maka dia telah berbuat syirik. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748

Daripada ‘Abdullah Ibnu Mas’ud bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:




الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.



Al-Thiyarah (menyandarkan keburukan kepada sesuatu) itu syirik, al-Thiyarah itu syirik tiga kali. Dan tidak ada seoarang pun dari kita, kecuali (telah terjadi dalam dirinya pengaruh al-Thiyarah tersebut) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal – Hadis riwayat Imam Abu Dawud, no: 3411.

Melalui hadis di atas kita dapati sedikit sebanyak setiap manusia akan berhadapan dengan perasaan tathayyur ini akan tetapi jika kita bertawakal kepada Allah dalam segala perkara yang mendatangkan manfaat dan menjauhi musibah, maka Allah akan menghilangkan perasaan tersebut dari jiwa kita. Sekiranya kita telah terjebak dalam perlakuan tathayyur ini, untuk menebusnya Rasulullah s.a.w. telah mengajar kita untuk mengucapkan:




اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.



Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan daripada-Mu dan tidak ada Tuhan selain-Mu. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748.

Namun apa yang menyedihkan setiap kali ketibaan bulan Safar, budaya jahiliyah yang diperangi oleh Islam ini seakan-akan muncul semula. Safar adalah bulan kedua dalam kalendar hijrah dan Safar bermaksud kosong atau meninggalkan sesuatu tempat. Penamaan bulan yang kedua ini sebagai Safar adalah kerana kebiasaan orang Arab meninggalkan rumah mereka pada bulan ini bertujuan memerangi musuh-musuh dan mereka juga suka mengembara pada bulan ini. Kebanyakan orang Arab pada zaman jahiliyah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar ini. Ternyata pemikiran jahiliyah ini masih diwarisi oleh segelintir kecil umat Islam pada zaman ini akibat lemahnya keimanan dalam jiwa dan kejahilan mereka terhadap ilmu tauhid. Mereka beranggapan bulan Safar merupakan bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Oleh itu banyak musibah dan bencana terjadi pada bulan Safar khususnya pada hari Rabu minggu terakhir. Sesetengah umat Islam menghindarkan diri dari melakukan perjalanan pada bulan safar melainkan terdapat keperluan yang mendesak. Sebagai contohnya dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniy, penulis kitab tersebut memilih untuk menahan diri dari keluar berjalan pada bulan ini dan menasihati agar semua pengikut tarekat tersebut untuk tidak meninggalkan rumah melainkan sekiranya benar-benar perlu. Dalam kitab tersebut dikhabarkan bahawa Syaikh tarekat tersebut ‘Abdullah Faiz Daghestani berkata: “Pada hari Rabu terakhir bulan Safar, 70,000 penedritaan (bala) akan menimpa dunia. Barangsiapa yang mengekalkan adab ini yang disebut (beberapa amalan yang tertentu), dia akan dilindungi oleh Allah yang Maha Kuasa.” Bagi orang Melayu pula mereka menghindari dari melakukan majlis perkahwinan pada bulan Safar kerana dipercayai jodoh pasangan pengantin tersebut akan tidak berkekalan dan kelak akan susah untuk mendapatkan zuriat. Ada juga yang beranggapan bayi yang lahir pada bulan Safar bernasib malang dan hendaklah dijalankan satu upacara khas untuk membuang nasib malang tersebut. Kesemua ini merupakan perkara-perkara tahyul dan khurafat yang harus dibanteras sehingga ke akar umbi. Firman-Nya:

Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. – al-Taghaabun (64) : 11

Lantaran itu beberapa amalan bidaah telah dicipta sempanan bulan Safar ini untuk menghindari sebarang bentuk malapetaka yang berkaitan dengan kedatangan bulan tersebut.

MANDI SAFAR
Orang Melayu satu ketika dahulu mengamalkan Mandi Safar atau mandi beramai-ramai ditepi sungai mahupun pantai yang dianggap sebagai satu ritual untuk menolak bala pada bulan Safar serta menghapuskan dosa. Orang Melayu berarak menuju ke destinasi terpilih diiringi dengan alunan muzik, nyanyian, jampi serapah dan alunan zikir tertentu. Setelah itu mereka mambaca jampi tertentu atau menulis ayat-ayat tertentu di atas kertas lalu memasukkannya ke dalam bekas berisi air dan mandi dengannya. Sebenarnya amalan mandi Safar ini diwarisi dari budaya Hindu. Walaupun Pesta Mandi Safar ini semakin terhakis dalam umat Melayu terdapat sesetengah pihak yang melakukan pembaharuan dalam upacara ini. Maka diarahnya penulisan ayat-ayat tertentu di atas kertas atau papan dan direndam di dalam kolah ataupun tangki berisi air untuk seluruh ahli keluarga bermandi dengannya. Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry berkata:

Orang-orang awam biasa menulis ayat-ayat tertentu tentang keselamatan di atas kertas, misalnya ayat:

"Salam sejahtera kepada Nabi Nuh dalam kalangan penduduk seluruh alam! " (al-Saaffaat (37) : 79) pada hari Rabu terakhir bulan Safar, kemudian meletakkannya di dalam bekas (berisi air) untuk diminum airnya dan untuk mencari keberkatan kerana mereka berkeyakinan bahawa hal ini akan menghilangkan nasib buruk. Ini adalah keyakinan yang sama sekali salah dan harus ditentang. – Rujuk al-Sunnan wa al-Mubtada’aat al-Muta’alliqahbi al-Adzkaar wa al-Shalawaat karya Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry, edisi terjemahan dengan tajuk Bidaah-Bidaah Yang Dianggap Sunnah, Qisthi Press, Jakarta (2004), ms. 149

Upacara yang disebut oleh Syaikh Muhammad ‘Abdussalam ini biasanya dikerjakan di Masjid di antara solat Maghrib dan Isyak pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

SOLAT SUNATPada hari Rabu terakhir bulan Safar kononnya disunatkan untuk mengerjakan solat sunat empat rakaat. Waktu mengerjakannya adalah setelah terbit matahari dan sebelum masukya waktu Zuhur. Pada setiap rakaat hendaklah dibaca surah al-Fatihah sekali, surah al-Kautsar tujuh belas kali, al-Ikhlas lima kali, Surah al-Falaq dan al-Naas sekali dengan dikerjakan dengan hanya satu tahiyat. Setelah selesai solat ini hendaklah membaca doa seperti berikut:

Ya Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, wahai zat yang kerana kemuliaan-Mu semua makhluk-Mu menjadi hina. Jauhkan aku dari kejahatan makhluk-Mu. Wahai zat yang Maha Baik, Indah dan Mulia, wahai Pemberi Nikmat dan Kemuliaan, wahai Zat yang tiada Tuhan kecuali Engkau, kasihanilah aku dengan rahmat-Mu wahai zat yang Maha Pengasih. Ya Allah dengan rahsia Hassan, saudaranya, ayah, ibu dan keturunnanya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan apa turun pada hari ini, wahai zat yang memenuhi segala keperluan dan penolak segala bencana. Semoga Allah menjauhkannya kerana Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semoga selawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. – Doa ini bersumber dari Risalah Rawi al-Dzam’an fi Fadhaail al-Asyhur al-Ayyam, ms. 4. Penulis nukil dari kitab al-Bida’ al-Hauliyyah karya ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz al-Tuwaijiry, edisi terjemahan dengan tajuk Ritual Bidaah Dalam Setahun, Darul Falah, Jakarta (2003), ms. 139

Ternyata tidak ada dalil yang sah menunjukkan solat suna serta bacaan doa tersebut disunatkan. Apatah dalam doa tersebut terdapat lafaz-lafaz tawassul yang dilarang oleh syarak iaitu menjadikan Hassan (r.a), Hussain (r.a), Ali (r.a), Fathimah (r.a) serta keturunan mereka sebagai perantara dalam berdoa. Allah S.W.T. memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa secara terus kepada-Nya tanpa perantaraan sebagaimana firman-Nya:

Dan Tuhan kamu berfirman: "Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. – al-Ghaafir (40) : 60

BACAAN SURAH DAN ZIKIR TERTENTUDalam buku al-Futuhat al-Haqqaniy pengikut tarekat tersebut diajar amalan tertentu untuk hari Rabu terakhir bulan Safar bertujuan untuk menolak bala. Di antara amalan-amalannya adalah membaca kalimah syahadah sebanyak tiga kali, beristighfar tiga ratus kali, membaca ayat al-Kursi tujuh kali, suraf al-Fiil tujuh kali dan dihadiahkan kepada diri sendiri dan juga ahli keluarga.

MEMBERI SEDEKAHKonnonnya dianjurkan untuk memperbanyakkan sedekah pada bulan Safar bertujuan untuk menjauhkan diri dari penderitaan dan nasib malang.

BERKORBANTerdapat juga segelintir pihak yang beranggapan dianjurkan untuk mengerjakan ibadah korban pada tarikh 27 Safar.

Ternyata kesemua amalan yang dikhususkan sempena bulan Safar di atas tidak pernah diperintah oleh Rasulullah s.a.w. serta tiada seorang sahabat mahupun para al-Salafussoleh yang mengamalkannya. Sabda Rasulullah s.a.w.:

Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697

Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. - Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718

Lantaran itu hendaklah seluruh umat Islam menghindarkan diri dari melakukan amalan-amalan bidaah tersebut. Rasulullah s.a.w. telah menegaskan bahawa segala tanggapan bahawa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan musibah dan bencana buruk adalah tidak benar. Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:




لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ.



Tiada penyakit yang berjangkit (dengan sendiri), tiada (keburukan ataupun kesialan pada bulan) Safar dan tiada (kecelakaan yang bersangkutan dengan) burung hantu. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 5717

Dugaan bahawa bulan Safar mahupun hari Rabu terakhir bulan Safar merupakan bulan ataupun hari yang malang merupakan sebahagian dari tathayyur yang dicela oleh syarak sebagaimana yang telah dibahaskan pada bahagian awal risalah ini. Menurut Ibnu Rajab r.h:

Menganggap sial bulan Safar adalah termasuk jenis tathayyur yang dilarang, begitu juga menganggap sial sesuatu hari seperti hari Rabu dan anggapan golongan jahiliyah terhadap bulan Syawal sebegai bulan sial secara khusus untuk dalam nikah. – Dinukil dari kitab Fathul Majid : Syarah Kitab Tauhid karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hassan Alu Syaikh, edisi terjemahan bertajuk Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid, Pustaka Azzam, Jakarta (2004), ms. 580

Harus kita fahami bahawa mencela waktu yang tertentu adalah seolah-olah mencela Allah S.W.T kerana semua waktu itu adalah ciptaan Allah S.W.T.. Bagi setiap waktu termasuk bulan Safar ini sekiranya dipenuhi dengan aktiviti yang bermanfaat serta amal soleh adalah termasuk dalam waktu yang baik dan penuh keberkatan. Oleh itu hendaklah bulan Safar ini dilihat seperti bulan-bulan yang lain dalam kalendar hijrah dan kita terus mengerjakan amal-amal ibadah yang disunnahkan seperti bulan-bulan lain tanpa mengkhususkan amalan tertentu yang tidak ada nas dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Hendaklah kita menghindarkan diri dari melakukan ramalan bahawa akan datang sesuatu perkara yang buruk disebabkan sesuatu perkara (tathayyur) kerana ianya termasuk dalam kategori amalan syirik. Ternyata syirik merupakan satu perbuatan yang zalim dan Allah S.W.T. tidak akan mengampunkan golongan yang mengsyirikannya melainkan bagi mereka yang bertaubat. Firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat kepadanya:" Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar". - Luqman (31) : 13

Firman-Nya lagi:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan akan mengampunkan (dosa) selain kesalahan (syirik) bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." – Surah al-Nisa' (4) : 116.

Tuesday, January 4, 2011

Tipu Daya Syaitan Pada Murid Sheikh Junaid Al-Bagdadi

Posted by lianazulak On 1:17 PM



Dipetik dari Tazkiratul Aulia (halaman 114)


Syaitan telah masuk ke dalam hati seorang daripada murid Sheikh Junaid dan membisikkan bahawa murid itu telah mencapai kesempurnaan dan tidak perlu lagi berkawan dengan Aulia Allah.

Murid itu pun memencilkan dirinya. Satu hari dia berkata kepada seorang kawannya bahawa dia telah dikunjungi oleh malaikat pada tiap-tiap hari dengan membawa unta yang berhiasan dan membawa dia melawat ke langit.

Apabila Sheikh Junaid mendengar perkara itu, beliau pun tinggal semalam bersama dengan muridnya itu. Sheikh Junaid menyuruh murid itu berkata kepada malaikat yang dikatakan datang mengunjunginya itu

"Kamu pesuruh iblis! Pergi jahanamlah kamu!!!"

Murid itu pun menyebut perkataan itu apabila malaikat itu datang. Apa yang dikatakan malaikat dan unta itu pun lari dan hilang dan didapati dirinya duduk di atas tong sampah dan rangka-rangka bangkai binatang yang bertaburan di situ.

Murid itu pun bertaubat dan meminta perlindungan dari Sheikh Junaid. Sheikh Junaid berkata;
"Memencilkan diri bagi orang yang dalam permulaan menjalankan perjalanan (Thoriqat) adalah bahaya. Berdampingan dengan guru yang mursyid adalah perlu".

Jika murid kepada Imam Besar Ilmu Tasauf Sheikh Junaid boleh diperdayakan oleh syaitan....betapa pula dengan mereka yang menggelarkan diri mereka Ahli Hakikat yang tinggi tetapi berguru dengan guru yang tidak dikenali asal-usul salsilahnya. Ada yang sampai terpadaya dengan ketinggian kata-kata guru berkenaan sehinggakan melanggar batas yang telah ditetapkan oleh syariat Rasulullah hinggakan sembahyang pakai niat sahaja, mengerjakan haji dengan tawaf mengelilingi pokok kayu. Berhati-hatilah memilih jalan ini dan lihatlah siapa guru anda agar anda tidak terpilih guru syaitan. Perhatikan kata-kata dari seorang Aulia Allah ini sebagai panduan dalam memilih Guru Thoriqat;

Shiekh(guru) itu boleh jadi di barat, tetapi beliau tahu keadaan muridnya di Timur Kelebihan yang harus dimiliki oleh seseorang guru tasawuf ialah dia mempunyai "KASFIL QALBI" (membaca hati murid) dan "KASFIL KUBUR" (mengetahui tentang keadaan orang yang mati dalam kubur).jika dia tidak mempunyai kelebihan ini, maka haramlah dia membimbing muridnya.
Dia tidak boleh menjadi guru tasawuf. Dia hendaklah tahu keadaan dunia dahulu dan sekarang.Beliau adalah khalifah di bumi ini. Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 30 yang bermaksud;
'Kami jadikan dia khalifah di bumi ini".

Sesungguhnya hamba-hambaKu (yang beriman dengan ikhlas), tiadalah engkau (hai iblis) mempunyai suatu kuasa terhadap mereka (untuk menyesatkannya); cukuplah Tuhanmu (wahai Muhammad) menjadi Pelindung (bagi mereka).
[Al-Isra' : 65]


Sumber